Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Mei 2013

SEEKOR LALAT MENGHANTARKANNYA KE SURGA

Pada suatu ketika Imam al-Ghazali menulis kitab. Pada masa beliau orang menulis menggunakan tinta dan sebatang pena. Alat tulis tersebut harus dicelupkan terlebih dahulu ke dalam tinta kemudian dipakai untuk menulis lagi. Begitu seterusnya. Ditengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tinta Imam al- Ghazali. Lalat itu tampaknya sedang kehausan. Ia meminum tinta dimangkuk itu. Melihat lalat yang kehausan itu, Imam al-Ghazali membiarkan saja lalat itu meminum tintanya. Lalat juga makhluk Allah yang harus diberikan kasih sayang, pikir Al-Ghazali.
Ketika Al-Ghazali wafat, selang beberapa hari kemudian,seorang Ulama yang merupakan sahabat dekat beliau bermimpi. Dalam mimpi itu terjadilah dialog. Sahabatnya itu bertanya, ” Wahai Hujattul Islam, Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu? “. Al-Ghazali menjawab, ” Allah telah menempatkanku di tempat yang paling baik “. “Gerangan apakah sampai engkau ditempatkan Allah ditempat yang paling baik itu? Apakah itu karena kealimanmu dan banyaknya kitab-kitab bermanfaat yang telah kau tulis?” tanya sahabatnya. Al-Ghazali menjawab, ”Tidak, Allah memberiku tempat yang terbaik, hanya karena pada saat aku menulis aku memberikan kesempatan kepada seekor lalat untuk meminum tintaku karena kehausan. Aku lakukan itu karena aku sayang pada makhluk Allah. “ Sahabatku, Dari kisah sufi tersebut memberi kita hikmah bahwa hanya tidak ada salahnya jika kita menolong mahluk Allah. Bayangkan hanya sekedar membiarkan lalat yang kehausan untuk minum saja menjadikan sebab seseorang masuk surga, apalagi memberi makan kepada sesama manusia. bersedekah bagi sesama yang benar-benar membutuhkan. Dalam hadits lain, diriwayatkan bahwa Nabi bercerita ada seorang pelacur bisa masuk Surga karena memberi minum seekor Anjing. Juga jangan remehkan dosa kecil karena dalam hadits diriwayatkan bahwa ada seorang wanita masuk neraka karena memelihara seekor kucing lalu mendzaliminya. So, jangan remehkan amal kecil karena sebesar atom pun akan diperhitungkan di akhirat kelak. Allah Swt berfirman :” Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. 99: 7-8) Sahabatku, Kisah di atas juga mengajari kita untuk tidak atau jangan pernah meremehkan amalan (kebaikan) sekecil apapun, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu, bisa jadi amalan yang kita anggap kecil tersebut berarti besar di hadapan Allah Swt, dan justru amalan tersebutlah yang akan mengantarkan kita ke Surga. Sebaliknya kita juga tidak tahu bahwa mungkin dosa (yang dianggap kecil) bisa menjerumuskan kita ke lembah kehinaan, Neraka Jahanam. a’udzubillahimindzalik. Akan tetapi, terkadang kita terlalu mengejar amal-amal besar dan meremehkan amal kecil, padahal ketika beramal kecil seringkali kita malah bisa sangat ikhlas. Kebaikan (Amal) itu tidak selalu kita menyumbang ke Masjid, tapi sekedar menyingkirkan duri di jalanan atau sekedar memungut sampah permen, sekedar mengucap salam kepada sesama muslim yang belum kita kenal, sekedar senyum pada sahabat kita, tidak ada yang sia-sia. Jika kita bisa melakukan amal-amal ringan, kenapa harus menunggu kesempatan untuk beramal besar? Bukankah juga Allah itu menyukai amalan yang berkelanjutan meskipun sedikit? Boleh jadi amalan kecil yang pernah kita lakukan adalah amalan paling ikhlas sehingga bisa menyelamatkan kita di hari akhirat kelak. Boleh jadi amalan kecil tersebut menjadi pelindung kita dari siksa kubur, dan boleh jadi amalan kecil tersebut bisa menjadi perantara bagi dikabulkannya doa-doa kita. Boleh jadi juga amalan kecil tersebut menjadi penghapus dosa-dosa kita. Karena itu marilah sejak saat ini, lakukanlah secara konsisten suatu amal ibadah yang kecil yang dilakukan ikhlas karena Allah Swt semata. Allah Swt senang terhadap amalan yang dilakukan secara terus menerus, dan ketika kita berhalangan (uzur syar’i) dan kita tidak dapat melakukan amal yang biasa kita ajeg-kan tersebut, Insya Allah, Allah SWT akan tetap memberi pahala seperti kita melakukan amalan tersebut di hari lainnya. Semoga Allah Swt memudahkan kita dan keluarga kita untuk melakukan amalan-amalan kecil secara konsisten dan memberikan keistiqamahan kepada kita menjalaninya dalam kehidupan ini, sehingga dapat mengundang keridhaan dan kasih sayang dari Allah Swt, Dan semoga Allah Swt menerima dan melipatgandakan pahala amalan-amalan kita baik yang kecil maupun yang besar,. Aamiin. Mari kita jemput kebaikan dan jangan lupa untuk saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga tulisan sederhana ini membawa manfaat bagi diri saya, keluarga dan kita semua. Amin YRA
BacaSelengkapnya...

Rabu, 20 Maret 2013

MENGGAPAI BULAN...?

Tiba-tiba saya tersadar: apa yang bisa aku banggakan ketika umurku 40 tahun? Jalan hidupku terasa datar, monoton. Jalan hidup yang telah aku lewati seperti tak berbekas, tidak ada yang bisa aku banggakan

Agus Lasmono Sudwikatmono pada usia 38 tahun kekayaannya mencapai US$845 juta atau sekitar Rp7,6 triliun. Melalui bisnisnya di industri batu bara, pria ini menjadi wakil presiden komisaris pada perusahaan penambang batu bara, PT Indika Energy Tbk. Indika Energy adalah perusahaan energi terpadu di Indonesia. Perusahaan menyediakan layanan solusi energi terintegrasi melalui diversifikasi investasi dalam bidang sumber daya energi, jasa, dan infrastruktur energi melalui investasi strategis di bidang produksi batu bara lewat PT Kideco Jaya Agung.

Sandiaga Salahudin Uno, pengusaha muda ini menurut majalah Forbes menduduki peringkat ke-37 orang terkaya di Indonesia pada usia 39 tahun. Melalui PT Saratoga Advisor dengan total kekayaan US$ 660 juta atau sekitar Rp5,9 triliun. Sandi Uno mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.

Mark Zuckerberg, dengan kekayaan bersih sebesar US$13,3 Miliar pada usia 28 tahun. Ia adalah CEO Facebook, sebuah raksasa jejaring sosial terbesar di dunia.

Andrew Darwis, merupakan pendiri (founder) komunitas online terbesar di Indonesia, yang sekarang ini mempunyai lebih dari 3 juta member . Andrew sekarang menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) PT Darta Media Indonesia sekaligus pemilik (owner) Kaskus Network lewat PT Darta Media Indonesia. Pri berumur 33 tahun ini telah memiliki kekayaan total sekitar US$5 juta.

Sementara aku masih bergulat jadi orang kantoran, mandek begini-begini saja jadi staf abadi. Banyak orang yang lebih muda umurnya daripada aku, karirnya melejit, dapat award internasional berkali-kali, plesir kelilig dunia dan aku lihat paspor saja belum pernah. Dulu ketika umur masih 25 tahun saya membayangkan punya mobil, 10 tahun kemudian baru kesampaian. Aku berani kredit mobil ketika umur 35 tahun dan mobil pertama itu adalah Toyota Yaris.

Sekali lagi, apa yang bisa aku banggakan ketika umurku 40 tahun? Entahlah, tapi aku tahu satu hal dengan membagikan cerita pahit ini buat Anda semua, jangan ikut-ikutan bodoh karena waktu tak bisa diulang.

Jika Anda sekarang 40 tahun, segera benahi hidup Anda. Pun jika Anda masih di bawah 40 tahun, jangan terlambat. Teman di kantor meninggal di usia 25 tahun terkena lupus, sebelum sempat mewujudkan cita-citanya. Tuhan tak mengijinkannya panjang umur. Di ke-40 ini, masih saja tak berkutik dalam zona nyaman. Rasa geram dengan situasi ini dan ingin sekali aku membenamkan kepala ini ke tantangan baru. Mustinya kita harus bersikap lebih kejam pada diri sendiri jika punya cita-cita tinggi yang ingin dicapai. Dengan itu, Insya Allah alam semesta akan memperlakukan kita lebih baik. Misalnya dengan meminjamkan rahasia Tuhan yang berupa keajaiban.

Akankah keajaiban datang? Aku tak boleh terlalu berharap, saya hanya ingin bersyukur Tuhan masih memberi saya kesempatan sampai hari ini. Selebihnya, saya hanya ingin melakukan yang terbaik di sisa hidup-ku. Agar besok jika jatah waktu-ku habis, aku nggak akan nyesel-nyesel amat.
BacaSelengkapnya...

Selasa, 15 Mei 2012

BERLINDUNGLAH DARI TIPU DAYA!

“Hai Adam, bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzolim.” (QS: Al-A’rof: 19). Larangan ini diketahui oleh Iblis dan sekuat tenaga ia berfikir bagaimana supaya Adam dan Hawa juga dilaknat oleh Allah dengan melanggar larangan itu. Iblis mengendap-endap ingin masuk surga kembali tetapi diusir oleh malaikat Ridwan, penjaga pintu surga. Namanya juga Iblis, ia tidak kehilangan akal, ia berdiri di pintu surga dengan beribadah di situ selama tiga ratus tahun, hingga tersiar kabar ibadahnya Iblis ke penduduk surga. Para malaikat tahu, tetapi tidak satu pun mereka yang keluar dari surga menghampirinya. Allah tidak mengijinkan siapa pun menengok Iblis di depan pintu surga.
Setelah waktu berjalan selama tiga ratus tahun itu, tiba-tiba seekor burung merak yang indah keluar dari pintu surga untuk suatu keperluan. Iblis melihatnya dan tanpa menunggu lama lagi ia beraksi, “Wahai makhluk yang mulia, siapa engkau dan siapa namamu? Aku belum pernah melihat makhluk Allah sebagus dirimu.” Burung itu menjawab, “Aku salah satu burung dari burung-burung yang ada di surga, namaku Merak.” Maka menangislah Iblis. Merak heran dengan tangisannya Iblis seraya bertanya, “Siapa kamu dan kenapa menangis?” Iblis menjawab, “Saya seorang malaikat, aku menangis karena sedih melihatmu yang akan kehilangan keelokan dan kesempurnaan kejadianmu.” Merak memastikan kebenaran ucapan Iblis dengan bertanya, “Betulkah aku akan rusak dari kejadianku ini?” “Tentu saja, engkau pasti akan binasa dan rusak, setiap makhluk hidup akan rusak kecuali mendapatkan pohon khuldi. Pohon itu membuat semua makhluk menjadi kekal.” “Dimana pohon itu?” “Di dalam surga” “Adakah yang bisa menunjukkan tempatnya?” “Saya yang akan menunjukkanmu tempatnya jika kamu memasukkanku ke dalam surga.” “Bagaimana aku bisa memasukkanmu ke dalam surga sedangkan tidak ada jalan untuk memasukinya tanpa sepengetahuan malaikat Ridwan. Tidak satu pun makhluk dapat masuk atau keluar kecuali dengan ijinnya. Tapi tunggu dulu, aku akan tunjukkan satu makhluk Allah yang dapat memasukkanmu. Dia mungkin satu-satunya yang dapat melakukannya. Dan ia itu pembantunya kholifah Allah, Adam.” Iblis bertanya, “Siapa dia?” Merak berkata, “Ular.” “Cepatlah beritahukan dia karena kami membawa kabar tentang keabadian. Mudah-mudahan dia bisa melakukannya.” Merak segera kembali ke dalam surga untuk menemui ular yang dimaksud. Bentuk ular itu juga elok dan mempunyai empat kaki. Merak berkata kepada ular, “Saya melihat seorang malaikat dari karubiyyun di depan pintu surga. Dia mengatakan tentang pohon yang bisa membuat kita kekal. Bisakah kamu memasukkannya ke dalam surga untuk menunjukkan kepada kita pohon khuldi, pohon keabadian?” Lalu, ular dan merak bergegas ke pintu surga untuk menjumpai Iblis. Dan sesampai di pintu surga Ular itu berkata kepada Iblis, “Bagaimana aku bisa memasukkanmu ke dalam surga, sedangkan Ridwan jika melihatmu pasti tidak mengijinkanmu masuk?” Iblis menjawab, “Aku akan merubah wujudku menjadi ulat lalu aku akan masuk dan berada di antara gigi taringmu.” Ular itu menjawab, “Baiklah” segera Iblis merubah dirinya menjadi seekor ulat dan masuk ke mulut ular itu yang membawanya masuk ke dalam surga tanpa diketahui oleh Ridwan. Di dalam surga, Iblis berniat menunjukkan tempat pohon yang dilarang oleh Allah kepada Adam. Namun, Iblis tidak menemukan Adam. Kemudian Iblis mendekati Hawa dengan meniup seruling. Belum ada makhluk yang pernah mendengar bunyi seruling yang seindah itu sehingga yang mendengarnya merasa terbuai dan hanyut tertarik oleh keindahan suaranya. Hawa dan yang lain sekitarnya menghampirinya. Iblis menghentikan permainan serulingnya sejenak. Hawa bertanya kepada Iblis, “Apa yang kau bawa itu?” Iblis menjawab, “Disebutkan bahwa tempat tinggal kalian berdua di surga dengan memperoleh kemuliaan dari Allah. Aku ikut bahagia melihat kalian berdua. Namun disebutkan juga di sini bahwa kalian berdua akan dikeluarkan dari surga, maka aku menangisi dan kwatir terhadap kalian berdua. Tidakkah tuhanmu telah berkata bahwa jika kalian makan dari pohon ini kalian akan mati atau di keluarkan dari surga? Perhatikan, jika aku makan pohon itu dan aku mati atau wujudku berubah maka kalian jangan memakannya. Aku bersumpah demi Allah, apa perlunya tuhan kalian melarang kalian mendekati pohon ini kecuali jika kalian tidak akan kekal di surga. Aku bersumpah kepadamu sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang memberi nasehat.” Hawa tertegun dengan kata-kata Iblis itu, apalagi disertai dengan sumpah atas nama Allah, namun ia tidak berani memutuskan sesuatu karena suaminya Adam tidak ada. Dan ketika Adam tiba, Iblis kembali menghampiri Adam dan Hawa yang keduanya tidak mengenali bahwa yang datang kepadanya adalah Iblis. Dia kembali bersandiwara dengan menunjukkan kekwatirannya yang dalam terhadap nasib Adam dan Hawa dengan tangisan kesedihan. Adam bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Iblis menjawab, “Aku menangisi kalian, karena kalian berdua akan mati dan berpisah, kalian akan meninggalkan kenikmatan dan kemuliaan kalian.” Kata-kata Iblis membuat hati keduanya tercekat. Iblis kembali menangis. Ia lalu menghampiri Adam dan Hawa dengan mengucapkan sebagaimana telah diabadikan dalam Al-Qur’an, “Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS: Thoohaa: 120). Adam menjawab, “Ya” Iblis berkata, “Tiap bagian dari pohon ini adalah pohon keabadian.” Adam berkata, “Tuhanku telah melarangku untuk mendekatinya.” Adam enggan untuk menuruti kata-kata Iblis. Namun, Iblis serta merta bersumpah dengan nama Allah kalau sesungguhnya ia benar-benar pihak yang menasehati. Adam dan Hawa menjadi bimbing karena sampai detik itu tidak ada satu pun makhluk yang bersumpah palsu dengan mengatasnamakan Allah. Itulah sumpah palsu pertama yang terjadi di jagad raya ini, yaitu sumpahnya Iblis. Maka, cepat-cepat Hawa memakan buah pohon itu, lalu Adam mengikutinya. Tiba-tiba suara Allah membahana menghardik, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS: Al-A’rof: 22). Serta merta, pakaian Adam dan Hawa lenyap entah ke mana. Mereka sadar bila ternyata aurat mereka kelihatan. Adam dan Hawa ketakutan setengah mati serta bingung tidak karuan sambil berlari pontang-panting di dalam surga dan menghampiri pohon-pohon surga sambil menghiba kepada pohon-pohon itu supaya diperkenankan mengambil daunnya untuk menutupi auratnya. Akhirnya pohon Tin merasa kasihan kepada mereka dan memberikan daun-daunnya untuk menutup aurat mereka. Adam dan Hawa bermohon, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: Al-A’rof: 23). Allah berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS: Al-Baqoroh: 36). Akhir kisah, Allah mengusir makhluk-makhluk yang telah membangkang dari perintah-Nya. Adam, Hawa, Iblis, Ular, dan Merak diturunkan di bumi. Sebagai konsekuensi mereka diturunkannya di bumi, Adam dan Hawa merasakan suasana dingin menusuk tulang dan panas yang menyengat , berkeringat saat bekerja dan Hawa merasakan haid. Iblis juga menerima konsekuensi dengan diubah bentuknya oleh Allah dari rupa malaikat menjadi rupa setan yang menyeramkan dan Allah melaknatnya serta pintu taubat tertutup baginya. Ular ketika sampai di bumi tidak lagi mempunyai kaki. Ia berjalan dengan perutnya, sedangkan merak atas kesalahannya itu ia tidak lagi bisa terbang.
BacaSelengkapnya...

Jumat, 16 Maret 2012

DALAM GELAP TERSIMPAN CAHAYA TERANG

 Saya kok lebih gampang terharu jika melihat atau mendengar tindakan-tindakan heroik orang lain. Saya juga pengen mencontohnya, melakukan hal yang sama. Itu ketika saya tertegun, larut dalam pencitraan tokoh itu.
Jeleknya, ketika saya keluar dalam suasana memikat itu, kembalilah saya kepada sifat aslinya. Jauh dari apa yang telah dilakukan oleh tokoh itu.
Tokoh berikut ini, semoga menginspirasi pembaca, begini kisahnya:

Seorang bapak paruh baya, penyandang cacat tuna netra beristri satu dan telah mempunyai satu anak, dengan dipandu oleh sebuah tongkat menyibak padatnya Jakarta. Setiap jam tujuh malam si bapak keluar rumah menuju tempat kerja ke rumah-rumah orang yang telah mengenal dan menjadi pelanggannya. Sudah bertahun-tahun dia telah menjalani profesi sebagai tukang pijat, membantu me-rileksasi pelanggan, mengendorkan urat saraf sebagian masyarakat Jakarta dari lelah setelah seharian mereka bekerja.

Pelajaran yang bisa kita dapatkan dari pekerjaan si bapak adalah, dia bekerja ketika sebagian besar masyarakat Jakarta pulang kerja dan si bapak pulang kerja di saat orang-orang terlelap tidur. Begitulah rutinitas si bapak seharian. Alhamdulillah, segala puji milik Allah yang telah memberikan nikmat berupa sehat kepada saya dan keluarga saya.
Banyak orang yang bermata sehat, tetapi banyak pula yang pura-pura buta dan merasa tidak tahu. Tidak bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, mana yang halal dan mana yang haram dan berlakulah hukum aji mumpung. Kapan lagi, mumpung ada kesempatan, sikat aje bleh. Begitulah bisikan Iblis.

Di sebuah kawasan Jakarta ada sebuah masjid, setiap minggu pagi jam 7 – 9 diadakan pengajian. Hadir dalam pengajian itu adalah si bapak (tokoh dalam cerita di atas). Si bapak diantar oleh putera satu-satunya dan isteri tercintanya. Si anak memegang ujung tongkat si bapak dan tangan kiri si bapak bergandengan dengan tangan isterinya. Sesampai di masjid itu mereka membaur dengan jamaah lainnya dan topik pengajian kali ini adalah tiket menuju surga.
Narasumber dalam pengajian itu menuturkan bahwa, “tiket menuju surga itu simple, sederhana. Setiap orang yang telah berikrar mengucapkan syahadat dan tidak pernah menyekutukan Allah, maka dia berhak mendapatkan tiket menuju surga. Dan di dalam surganya Allah itu, diceritakan banyak kenikmatan bahkan kenikmatannya berlipat-lipat dari kenikmatan di dunia.” Namun, ustad tadi mengingatkan bahwa itu baru tiket. Untuk mendapatkan kesempatan menikmati berbagai kenikmatan yang dijanjikan Allah tersebut seorang hamba musti mempunyai “KTP Surga”.

Lalu, bagaimana untuk mendapat “KTP Surga” tersebut? Dengan tiket ke surga seorang hamba hanya berhak melihat penghuni / penduduk surga, betapa bahagianya penduduk surga mendapatkan berbagai fasilitas istimewa dari Allah SWT. Ustad tersebut merinci bahwa untuk mendapatkan “KTP Surga” seorang hamba tidak cukup hanya berikrar dengan kalimah toyyibah bahwa, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Jika seorang hamba telah melakukan amal sholeh, sholat, membayar zakat dan sedekah serta amalan ibadah lainnya, maka ia berhak mendapatkan “KTP Surga” tersebut dan masuklah ia ke dalam surga Allah, ia kekal di dalamnya selama-lamanya.
“Hayo, siapa yang berminat pengen dapat “KTP Surga”, ustad menyeru kepada jamaah. Sepontan saja hadirin di masjid itu menjawab, “saya,” dengan mengacungkan telunjuk jari mereka ke atas.

Setelah ceramah agama itu selesai dan sebagian jamaah yang lain telah undur diri pulang ke rumah masing-masing, si bapak tokoh kita membisikkan kata-kata kepada puteranya untuk dituntun, diantarkan mendekat kepada ustad. Sesampainya mereka di hadapan ustad, si bapak berkata, “Ustad, seandainya rahmat dan ampunan Allah jatuh kepadaku hingga memasukkanku ke dalam surga-Nya, apakah saya dapat meminta sesuatu kepada-Nya untuk kesembuhan mata saya agar saya dapat melihat rupa isteri dan anak saya?”
“Bisa”, jawab ustad.
“Di dalam surga selain mendapatkan kenikmatan-kenikmatan yang melimpah ruah, seorang hamba secara fisik sangat sempurna, tanpa cacat, dan sangat cantik serta rupawan, itulah janji Allah dan Dia tidak akan mengingkari janji-Nya”, rinci ustad itu.
“Ustad, saya senang, saya bahagia mendengar penjelasan ustad dan saya tidak peduli sampai kapan saya menunggu harapan itu datang, entah seratus tahun lagi, seribu, bahkan milyaran tahun lagi kenyataan itu datang.

Pada cerita kedua ini, yang menarik adalah, bahwa, pengajian ini diadakan setiap hari Minggu pukul 7 – 9 pagi. Ketika sebagian besar masyarakat Jakarta baik orang tua, remaja dan anak-anak menghabiskan waktunya untuk berlibur, jalan-jalan atau lari pagi, bersepeda baik sendiri atau dengan kelompok, dan ada juga yang bersiap-siap untuk shopping di mall-mall, rekreasi atau kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat duniawi. Tetapi, ini tidak berlaku dengan keluarga buta itu, tokoh kita dalam kisah ini.
Ketika anak-anak seusia putera bapak itu (± 9 tahun) pada jam 7 – 9 pagi asyik bermain di taman, nonton TV, dan malah ada yang masih terlelap tidur, justru anak si bapak itu menuntun orang tuanya untuk datang ke masjid menyerap hikmah dalam pengajian tersebut.
Pelajaran yang bisa kita ambil dalam kisah ini adalah, orang dengan penyandang cacat tuna netra mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh, harapan dan kebanggaan bagi seorang muslim sejati.
Saya, alhamdulillah dalam kondisi sehat, normal, dan tidak cacat. Namun, susah sekali mengarahkan anak-anak saya pergi ke masjid. Mereka lebih menikmati sajian TV dari pada datang ke majlis-majlis ilmu agama.

BacaSelengkapnya...

Kamis, 15 Desember 2011

PENOLAKAN BUMI TERHADAP PENCIPTAAN ADAM

Allah SWT berfirman kepada bumi, “Sesungguhnya Aku akan menjadikan makhluk yang berasal darimu. Sebagian dari mereka taat kepada-Ku dan sebagian yang lain mendurhakai-Ku. Barangsiapa yang mentaati-Ku, Aku akan masukkan ke dalam surga. Barangsiapa yang mendurhakai-Ku, akan Aku masukkan ke neraka.”


Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk mendatangi bumi untuk mengambil sejumput tanah. Segera Jibril turun dan sesampainya di bumi, ternyata bumi menolak permintaan Jibril dengan berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada keagungan Allah yang mengutusmu untuk mengambil bagian dariku yang akhirnya hanya akan menghuni neraka.”
Serta merta Jibril kembali pulang dan menghadap Allah dengan tangan kosong serta berkata, “Wahai Tuhanku, bumi berlindung kepada-Mu bahkan menolak aku injak.” Kemudian Allah SWT memerintahkan malaikat Mikail untuk mendatangi bumi dan kembali bumi berlindung kepada Allah untuk diambil tanahnya. Kembali Mikail pulang menghadap Allah dengan tangan hampa.

Allah SWT kemudian mengutus malaikat maut. Segera Izroil mendatangi bumi untuk mengambil sebagian tanahnya. Kembali bumi berlindung kepada Allah. Malaikat maut pun menjawab, “Aku juga berlindung kepada Allah untuk mendurhakai perintah-Nya.” Kali ini Izroil memaksa bumi, suka tidak suka pokoknya tanahnya diambil.
Malaikat maut mengambil tanah dari empat penjuru bumi dari permukaannya yang di atas, kemudian diambilnya pula tanah lumpur, tanah lempung, tanah merah, putih, dan tanah hitam serta tanah keras dan tanah datar. Inilah sebabnya keturunan Adam menjadi beragam macam sifat dan karakternya, ada yang tampan, cantik, jelek rupa, bersih, kotor, sholih, jahat, dan lain-lain. Hal ini sesuai firman Allah, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakannya langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” QS: Ar-Ruum: 22.
Setelah malaikat maut mendapatkan tanah tersebut, kembalilah Izroil ke hadapan Allah SWT dan Allah memerintahkannya untuk mencampur tanah-tanah itu menjadi lempung yang lunak. Izroil mengaduk tanah-tanah tersebut menjadi semacam adonan yang telah dicampur dengan air pahit, manis, dan tawar hingga menjadi lempung dan kemudian dibentuk menjadi semacam patung manusia.

Patung tersebut itu dibiarkan selama empat puluh tahun hingga menjadi tanah kering seperti tembikar. Malaikat maut kembali menghampirinya dan menjadikannya jasad berikut perlengkapan di dalamnya dan meletakkannya di jalan tempat para malaikat naik turun dari atau ke langit selama empat puluh tahun juga.
Para malaikat melihat jasad itu dengan saling mengatakan, “Inilah kholifah di bumi yang akan dihidupkan oleh Allah.” Bentuk rupa Adam memang sangat bagus yang belum pernah ada yang mirip dengannya sebelumnya.
Iblis juga tidak ketinggalan untuk melihat sosok Adam itu. Iblis memperhatikan sosok Adam yang masih berupa patung itu sambil berkata, “Untuk inilah engkau diciptakan.” Iblis memukul patung itu dengan tangannya. Dari situ si Iblis mengetahui bahwa calon manusia Adam itu berongga, maka Iblis masuk ke dalam rongga mulut Adam dan keluar melalui pantatnya.

Iblis berkata kepada malaikat-malaikat yang ada di sekitarnya, “Ini makhluk yang berlubang yang tidak kuat dan tidak pula bertahan lama.” Kemudian Iblis melanjutkan ucapannya lagi kepada para malaikat, “Apa pendapatmu jika ia diunggulkan terhadapmu, apa yang akan kalian lakukan?”
Malaikat-malaikat itu menjawab, “Kami taat pada Tuhan kami.” Iblis bergumam dalam hati, “Demi Allah, jika saja ini lebih diunggulkan dari aku, sungguh-sungguh aku akan mengingkarinya. Jika saja aku yang lebih diunggulkan daripada dia, akan kuhancurkan dia.
Setiap kali malaikat melewati patung Adam, mereka kagum dengan bagusnya serta gagah bentuknya. Dikisahkan pula bahwa selama empat puluh tahun “patung” Adam dihujani dengan hujan kecemasan serta hujan kebahagiaan setahun penuh. Itulah sebabnya anak-anak Adam di bumi selalu diliputi rasa gelisah, lalu berganti dengan kebahagiaan.

Setelah Allah meniupkan ruhnya ke dalam jasad patung itu, Adam serta merta hidup dengan wujud yang tampan dan gagah. Allah memerintahkan malaikat Mikail dan Isrofil untuk membawanya berkeliling seantero jagad semesta selama seratus tahun. Selama dalam perjalanan itu, Adam menunjukkan nama-nama semua benda yang mereka temui, termasuk nama malaikat yang turut gembira dengan kedatangan Adam. Para malaikat terkagum-kagum karena Adam dapat menjelaskan semua benda yang ada di langit yang tidak bisa dilakukan oleh semua malaikat itu.
Menyaksikan kehebatan dan keunggulan Adam tersebut, semua malaikat serta merta bersujud kepadanya ketika diperintahkan oleh Allah untuk bersujud, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” QS: Al-Khijr: 29.
Kecuali Iblis, ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir.” QS: Al-Baqoroh: 34.
Maka Allah menegur Iblis, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.
Allah  berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
Iblis menjawab, “Oleh karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan seret mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.
Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya. QS: Al-A’rof: 12-1

BacaSelengkapnya...

Kamis, 01 Desember 2011

AKU TERGODA PEREMPUAN CANTIK


Siapa sih yang tidak tertarik dengan wanita cantik (sangat cantik). Manusia biasa tidak akan bisa menghindar dari hal ini, minimal tidak akan mampu menundukkan pandangannya dari pesona perempuan sangat cantik.

Alkisah, dizaman Nabi Idris as, Iblis mengajarkan manusia ilmu-ilmu sihir hingga ahli sihir itu menyebabkan orang bercerai dengan isterinya. Banyak akibat buruk yang disebabkan oleh sihir hingga manusia dizaman itu banyak melakukan maksiat dan kufur kepada Allah.
Melihat kerusakan yang dilakukan oleh manusia akibat sihir, para malaikat berkumpul dan bermufakat lalu mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhanku, bagaimana Engkau bisa bersabar dengan tingkah anak-anak Adam yang penuh kotoran dan dosa?”
Allah SWT menjawab, “Sesungguhnya Aku memberi cobaan kepada mereka dan memaafkan mereka.”
Para malaikat berkata, “Sekiranya kami berada di posisi mereka, kami tidak akan mendurhakai-Mu.”
Allah menjawab, “Kalaulah Aku uji kalian berdua dengan apa yang Aku uji terhadap anak Adam, pasti kalian berdua akan bermaksiat kepada-Ku”. “Pilihlah dua malaikat di antara kalian!”
Malaikat-malaikat itu memilih dua malaikat di antara mereka dan akhirnya terpilihlah Harut dan Marut untuk diturunkan ke bumi. Lalu Allah memasukkan nafsu ke dalam diri kedua malaikat itu seperti manusia memiliki nafsu dan wujudnya pun dirubah seperti manusia biasa.

Tersebutlah Harut dan Marut turun ke bumi di kota Babilonia (Irak) dan menjadi hakim yang sangat adil serta mereka berdua dilengkapi ilmu sihir oleh Allah. Mereka mengajarkan ilmu sihir itu kepada para pengikutnya tetapi bukan untuk digunakan dan dimencelakai orang lain. Harut Marut menunjukkan betapa bahayanya ilmu sihir itu dan dilarang oleh Allah dan semua itu tidak berarti kecuali dengan izin Allah. Dari ilmu sihir itu orang dapat menceraikan seorang suami kepada isterinya yang semula tidak ada sebab musababnya. Akan tetapi, syetan lalu mengajarkannya kepada manusia dan menyimpangkannya untuk membuat fitnah di muka bumi.

Sudah sebulan Harut Marut menghakimi perkara manusia dengan adil tanpa cela. Hingga pada suatu hari datanglah seorang perempuan yang sangat cantik (cantiiiiiiiik banget / cantik jelita). Tercekatlah kedua malaikat itu serta penglihatannya terpana melihat keelokan dan pesona perempuan ini. Harut berkata kepada Marut, “Apakah kau merasakan apa yang aku rasakan dalam hatiku?”
“Benar” Jawab Marut dengan membelalakkan matanya tanpa berkedip melihat wanita cantik laksana bidadri.
Dengan suara bergetar Harut dan Marut bertanya, “Ada yang bisa kami bantu?”
“Ya” Saya mempunyai masalah hukum yang sangat rumit, Jawab perempuan itu.
“Maukah kamu bercinta dengan kami, sebagai imbalan jasa hukum yang akan kami berikan kepada Anda?”
“Tidak” Jawab perempuan jelita itu. “Saya akan kembali esok hari lagi kesini.” Lalu perempuan itu pulang.
Keesokan harinya perempuan itu datang lagi. Kedua malaikat yang telah menggendong nafsu di hatinya itu kembali merayunya.
“Tidak mau, hingga kalian bersedia melakukan tiga permintaan yang kuajukan.”
“Apa permintaanmu?”
“Aku penyembah berhala, maka sembahlah pula berhala. Kedua, bunuhlah, dengan hukum yang kalian punya, si Fulan yang menjadi perkaraku. Dan ke tiga, aku tidak bisa bercinta bila tidak minum arak, maka kalian minumlah arak.”
Tentu saja ke dua malaikat itu menolak permintaan wanita itu karena mereka tahu persis itu dosa yang sangat besar yang dimurkai oleh Allah. Dan wanita cantik itu kembali ke rumahnya.

Pada hari ke tiga, perempuan itu datang lagi ke tempat kedua hakim itu. Kali ini ia membawa sloki yang berisi arak. Kembali kedua malaikat itu merayunya lagi. Perempuan jelita itu kembali mengajukan syarat yang pernah diutarakan pada hari sebelumnya. Harut Marut berdiskusi mempertimbangkan permintaan wanita itu, “Menyembah berhala berarti kafir dan berdosa amat besar, membunuh orang tanpa hak juga dosa besar, dan ketiganya, dosa yang paling kecil di antara syarat yang lain adalah minum arak.”
Akhirnya kedua malaikat itu memutuskan, “Baiklah kami akan minum minuman keras, tetapi kamu setuju dengan begitu bercinta?”
“Baiklah” Jawab perempuan cantik itu.
Kedua malaikat itu kemudian menenggak arak itu hingga mabuk. Gairah ke tiga orang itu memuncak hingga terjadilah perzinahan di situ. Dalam keasyikannya menumpahkan nafsu itu, tiba-tiba masuk seseorang yang memergoki. Tanpa berfikir panjang pedang kedua malaikat itu mengayun menembus dada orang itu karena mereka tidak ingin ada saksi atas perbuatan mereka. Mengetahui saksinya sudah mati, perempuan itu mempersembahkan jasad itu kepada berhala yang diikuti oleh kedua malaikat yang telah berselimut gairah itu. Setelah mereka sadar kembali, malaikat Jibril datang memperingatkan mereka terhadap peringatan Allah bahwa mereka pun akan berbuat dzolim di bumi. Harud dan Marut menangis tanda menyesal dengan apa yang telah mereka perbuat.
“Apakah Allah akan mengampuni dosa kami?” Tanya mereka kepada Jibril.
“Carilah seorang nabi untuk mengetahui dosamu diampuni atau tidak.”
Kedua malaikat itu kemudian pergi mencari rumah nabi Idris. Setelah ketemu, mereka mengutarakan keinginannya untuk bertaubat kepada Allah SWT. Nabi Idris as menjawab keinginan mereka dengan mengatakan, “Taubat kalian akan diampuni Allah dengan ketentuan kalian harus memilih disiksa di dunia atau di neraka setelah kiamat kelak?”
“Wahai Idris Nabiullah, tentu saja kami memilih siksa di dunia karena siksa di dunia akan berhenti ketika kiamat menjelang, sedangkan siksa di akhirat amatlah dahsyat yang tidak satu pun makhluk pun mampu menerimanya dan berjalan sepanjang masa.” Jawab Harut dan Marut.
“Baiklah kalian akan menerima siksa di dunia yaitu kaki kalian akan digantung di atas dan kepala di bawah di sebuah gua hingga hari kiamat.”
Begitulah mereka merasakan siksa di dunia hingga hari kiamat di sebuah gua antara Irak dan Turki. Wallahu a’lam.


BacaSelengkapnya...

Jumat, 25 November 2011

SUP BELALANG, JAMUAN ISTIMEWA RAJA SULAIMAN

Nabi Sulaiman merupakan manusia yang diberi karunia sangat besar oleh Allah. Bangsa jin, manusia, seluruh binatang takluk kepadanya bahkan angin pun ditundukkannya dengan seizin Allah. Singgasana Ratu Bilqis saja bisa dipindahkan dari Saba’ di Yaman ke hadapan nabi Sulaiman dalam waktu sekejap mata.

Ketika nabi Sulaiman menyadari bahwa karunia Allah yang diberikan kepadanya itu sangat besar, kini Sulaiman tampak mencoba menguji sebesar kemampuan kerajaannya dalam memberi makan makhluk di seluruh negeri kekuasaannya.
Pada kesempatan yang dirasakan amat memungkin, Sulaiman berdoa kepada Allah, “Ya Allah, hendaklah Engkau memberiku kesempatan kepada hamba-Mu ini untuk memberi makan para  makhluk-Mu di bumi ini barang sebulan saja.”
Allah menjawab, “Wahai Sulaiman, kamu tidak akan mampu menanggung rezeki mareka dalam jangka waktu itu.”
Sulaiman berkata, “Kalau begitu, hendaklah Engkau izinkan saya memberi rezeki mereka seminggu saja.”
“Engkau juga tidak akan mampu, wahai Sulaiman.” Sahut Allah lebih lanjut.
Tetapi nabi Sulaiman tetap mendesak, “Kalau demikian, izinkan saya memberi makan mereka dalam sehari saja!”
Engkau tetap tidak akan mampu, Sulaiman!” Jawab Allah SWT.
Mendapat jawaban seperti itu, nabi Sulaiman bengong tidak mengerti, kemudian memaksakan diri bermunajat pada kali terakhir, “Ya Allah, berilah izin hamba-Mu untuk memberi makan mereka, kendati barang sehari.”
Menyadari atas kenekatan Sulaiman, Allah pun memberi izin kepada nabi Sulaiman untuk mencobanya, agar ia tahu seberapa besar kekuatan kerajaannya itu.
Mendapat izin ini, hati Sulaiman amatlah lega. Segera saja ia mengumpulkan para prajurit yang terdiri dari manusia dan bangsa jin agar mereaka segera mempersiapkan dan mendatangkan berbagai bahan yang mungkin diperlukan, baik yang akan dikonsumsi bangsa jin, manusia, ataupun binatang. Didatangkan pula berbagai lauk dari seluruh penjuru dunia, yang berupa sapi, domba, kerbau dan lain sebagainya untuk disembelih.
Setelah seluruh makanan beserta lauk pauknya dirasakan siap, seluruh prajurit segera diperintahkan untuk memasang periuk-periuk besar yang mampu untuk menanak nasi dalam jumlah besar. Lauk pauk pun segera dimasak dengan rempah yang mengundang selera.
Setelah dirasakan siap, seluruh makanan itu dihamparkan di atas alas di tanah lapang yang luasnya sepanjang mata memandang, sehingga diperkirakan jaraknya adalah sama dengan jarak dua bulan perjalanan. Sulaiman memilih tempat yang paling strategis, sehingga akan mudah dijangkau oleh seluruh makhluk, baik yang berada di lautan atau pun daratan. Dalam hal ini, angin diperintahkan agar bertiup sedang untuk menjaga agar makanan tidak cepat basi.

Seluruh makan telah terhidang dengan sempurna, Allah pun bertanya kepada Sulaiman, “Wahai Sulaiman, siapa yang lebih dahulu engkau kehendaki untuk menyantap hidanganmu, apakah dari bangsa jin, manusia, atau binatang?”
“Ya Allah, saya menginginkan, hendaklah binatang samudera yang lebih dulu menyantap hidangan saya ini,” jawab nabi Sulaiman dengan sopannya.
Seketika Allah segera memberi tahu kepada seluruh binatang laut bahwa rezeki mereka pada hari itu bukan lagi Allah yang memberi, akan tetapi telah ditanggung oleh hamba-Nya yang bernama Sulaiman.
Tiba-tiba seekor ikan samudera yang sangat besar bergerak menuju kerajaan nabi Sulaiman untuk mendapatkan rezekinya. Ia diperintahkan Allah untuk terlebih dahulu menyantap hidangan itu sebelum ikan-ikan yang lebih kecil memakannya.
Setelah ikan besar itu bertemu dengan nabi Sulaiman, ia berkata, “Wahai Nabi Sulaiman, aku mendengar bahwa rezekiku hari ini tidak ditanggung Allah lagi, namun engkau yang menanggungnya. Adakah berita itu benar?”
Menyadari datangnya binatang sebesar itu, hati nabi Sulaiman mulai ragu, adakah rezeki yang dipersiapkan itu bisa mencukupi? Bagaimana jika jumlah binatang seperti itu mencapai ratusan, bahkan ribuan? Dengan tubuh mulai lesu, nabi Sulaiman mempersilahkan binatang itu untuk mulai menyantap makanan yang telah terhidang. Segera saja, ikan itu beserta teman-teman sejenisnya bergerak mendekati hidangan yang diperkirakan Sulaiman cukup untuk seluruh makhluk. Namun apa yang terjadi, ikan-ikan besar itu segera melahapnya mulai dari permulaan sampai habis seluruhnya dalam sekejap. Bahkan setelah itu, ikan-ikan itu masih berteriak-teriak, “Wahai Nabi Sulaiman, kami belum kenyang, makanan itu hanya menempati sebagian perut kami. Untuk itu, hendaklah engkau menambah lagi!
Mendapatkan permintaan seperti itu, Nabi Sulaiman marah sembari mengatakan, “Wahai ikan yang tidak mengerti aturan, betapa banyak makanan yang telah kalian habiskan, betapa rakusnya kalian, sehingga makhluk lain tidak mendapatkan bagian.”
Sang ikan pun menjawab, “Betapa tidak pantas ucapan sang tuan rumah. Hendaklah engkau ketahui, wahai nabi Sulaiman, bahwa porsi makan kami setiap hari adalah tiga kali lipat dari apa yang engkau sediakan, sehingga engkaulah penyebab utama hari ini kami kelaparan. Engkau cerobah, wahai Nabi Sulaiman.”
Nabi Sulaiman pun langsung bersujud kepada Allah atas ketidakmampuannya memberi rezeki para makhluk-Nya. Setelah itu, Sulaiman segera berdoa kepada Allah:
“Ya Allah, mulai detik ini, tanggung jawabku memberi makan para makhluk-Mu aku kembalikan kepada-Mu, mohon ampun atas kecerobohanku, dan segera terimalah permohonanku ini sebelum para makhluk-Mu ramai-ramai menuntut rezeki mereka kepadaku, Engkau Maha Suci lagi Maha Besar, ya Allah.”

Tepat ketika Nabi Sulaiman bermunajat seperti itu, burung Hudhud sedang berada di dekatnya. Ia tidak kasihan melihat nabinya merintih dan berdoa mengembalikan mandat memberi rezeki kepada Sang Pencipta, bahkan ia tampak senang, dan ia pun berusaha menghibur nabinya agar dukanya segera terobati.
Hudhud berkata, “Wahai nabiullah, aku sangat ingin membahagiakan hati baginda hari ini.”
Nabi Sulaiman segera berkata, “Apa yang akan engkau lakukan, wahai Hudhud untuk mengobati hatiku yang sedang sedih ini?”
“Aku ingin menjamu baginda hari ini,” jawab burung Hudhud.
“Adakah hidanganmu itu engkau khususkan untuk diriku, atau beserta para prajuritku?” Sambung nabi Sulaiman lebih lanjut.
Dengan bangganya, Hudhud berkata, “Bahkan, baginda beserta para prajurit dan seluruh rakyat baginda, baik dari bangsa jin, manusia, dan seluruh binatang selain diriku.”
Maka, antara Nabi Sulaiman dan Hudhud pun segera membuat kesepakatan dan menentukan waktu untuk menyantap jamuan yang disediakan Hudhud itu.
Waktu yang telah ditentukan pun tiba dan semua dipandang siap, maka seluruh prajurit nabi Sulaiman beserta rakyatnya bergerak menuju arah yang ditunjukkan Hudhud yang tampaknya menuju ke tepi lautan. Setelah rombongan itu berada di dekat laut, segera saja burung Hudhud menyambar seekor belalang dengan paruhnya, kemudian ia mencekiknya hingga mata belalang tersebut melotot dan kemudian mati.
Lalu, dilemparkannya belalang itu ke laut. Kemudian, Hudhud berkata, “Wahai Nabi Allah, hendaklah baginda segera menyantap hidangan yang telah hamba sediakan berupa daging. Dan, barang siapa tidak kebagian, ia bisa menyantap kuahnya.”
Mendapat akal-akalan Hudhud seperti ini, Nabi Sulaiman hanya tertawa lebar, menyadari bahwa ulah Nabi Sulaiman bermunajat kepada Allah untuk memberi makan para makhluk-Nya kini ditirukan oleh Hudhud dengan kelicikannya.   

BacaSelengkapnya...

Kamis, 10 Maret 2011

OJO DUMEH, TERLALU!


Pantaskah seorang hamba marah kepada Tuhan? Pertanyaan ini aku tujukan kepada diriku sendiri.
Saat kesabaran ditundukkan oleh amarah, aku merasa lebih hebat yang telah mampu memarahi dan mampu melakukan protes terhadap ketetapan Tuhan.
Lebih narsis, aku rumongso (merasa) berhasil marah dan Tuhan menuruti apa yang aku minta.

Ampuni aku ya Allah, masih saja aku belum bisa menerima titipan-Mu. Aku merasa kewalahan, aku menafikan kuasa-Mu. Aku merasa tambah anak hanya akan menambahi beban hidupku, mengurangi kenyamanan dalam hidupku...
Suatu malam, anakku yang nomor dua (2,5 thn) demam, suhu tubuhnya panas sekali mau aku bawa ke dokter tapi aku kerepotan membawanya, bagaimana caranya....kendaraan satu-satunya yang aku miliki adalah motor. Apa aku perlu gendong dengan selendang? Istriku tidak mungkin aku ajak serta membawa Jasmine ke dokter sementara masih ada dua anak lagi di rumah ( no.1 umur 5 thn dan si baby baru berumur 1 thn) sedang pulas tidurnya, jika kami tinggal lantas siapa yang menjaga mereka di rumah, kami tidak mempunyai pembantu...

Duhhh repotnya.......
Dan ketika kepasrahan dan kerumitan melilit kesabaran kami, aku tegaskan dan berkata kepada istriku (inilah bentuk protesku kepada Tuhan) “kita tidak perlu ke dokter, kita kembalikan kepada Tuhan saja karena Dialah yang memaksa kami beranak tiga, biarlah Kuasa dan Keperkasaan-Nya yang akan menyembuhkannya”.

Setelah itu kami putuskan masuk kembali ke kamar tidur dan merebahkan Jasmine ke tempat tidurnya. Apakah setelah protesku tadi lantas Tuhan menyembuhkan Jasmine dari serangan demam? Tentu saja tidak, kun fayakun Allah tidak serta merta jatuh dan menurunkan suhu tubuh anakku. Jasmine anakku malah demamnya makin tinggi sampai dia mengigau. Istri panik dan menangis dan aku sendiri seperti biasanya saat dihadapkan situasi sulit, maka kebiasaan primitif aku lakukan, DOA.
Iya, hanya doa yang bisa aku lakukan. Berharap dengan melafalkan Kalamnya, Allah SWT segera menurunkan keajaiban, kesembuhan bagi Jasmine.

Lalu, apa yang terjadi kemudian? Sungguh, setelah doa dan “protesku” dijawab oleh Tuhan, Jasmine tidak lagi rewel dan suhu tubuhnya merangsur normal hingga keesokan hari. Kami bernafas lega dan kami bisa melanjutkan tidur dengan nyenyak....

Keberhasilan protesku ini aku bawa ke kantor, aku ceritakan kebeberapa teman bahkan aku ceritakan pula ke tempat lainnya. Aku bangga (mungkin saja terselip sifat takabur).
Aku pikir Allah melunak setelah aku protes. Aku mengira Tuhan takut dengan protesku hingga menuruti mau-ku. “Alhamdulillah, seringkali kami dihadapkan pada situasi pelik, anak-anak sakit tidak pernah sekalipun kami membawa anak-anak kami ke Rumah Sakit untuk dirawat (opname), selama ini hanya rawat jalan”.
“Bintang, anak kami yang pertama sudah tiga kali divonis dokter terkena tifus/tipes juga terkena radang paru (flek) dan harus dirawat di Rumah Sakit, karena kondisi tidak memungkinkan kami melakukannya kami cukup merawatnya di rumah sendiri dan syukur alhamdulillah sembuh”.
Aku tidak menyadarinya, bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya “Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya”
Dan Allah sangat dekat dengan hamba yang sabar lagi taqwa. Dan aku, belum termasuk di dalamnya. Kufur nikmat, mudah rapuh (tidak sabar) menjauhkanku dari nilai taqwa.

Ya Allah, Yang ampunannya Maha luas....

Sekali lagi tidak, Allah SWT yang kekuasaan-Nya meliputi luasnya langit dan bumi tidak bisa disetir dan Dia tidak merasa kerepotan memelihara makhluknya. Tidak ada makhluk manapun yang bisa mempengaruhi kekuasaan-Nya. Dialah berkehendak atas segala yang Dia pilih atas makhluk-Nya.

Ya Allah, dunia dan isinya dalam genggaman-Mu....

Apalah aku ini, makhluk doif, penuh dosa. Dan Allah telah tunjukkan kekuasaan-Nya.
Setelah apa yang telah aku lakukan, mengira bahwa Allah bisa diprotes mau menuruti kemauanku. Allah telah menarik kembali nikmat-Nya yang sempat aku rasakan..... Jasmine anakku kembali demam dan panasnya mencapai 39◦C hingga keluar bintik merah di sekujur tubuhnya (tampek) hingga akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali HARUS masuk rumah sakit dan dokter menyarankan diopname!.

Jasmine nampak lelah dan lemas sudah dua hari tidak dapat asupan nutrisi karena tiap diberi makan selalu dimuntahkan. Dokter bilang, “dia bisa dehidrasi dan kasihan ginjalnya karena sudah dua hari dia tidak bisa pipis”.
Akhirnya kami menyerah dan mengikuti saran dokter, Jasmine perlu perawatan intensif dan harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari sampai dia sembuh.
Sampai di sini aku tetap saja belum memahami, sibuk dengan keruwetan pikiran. Perlukah aku protes lagi kepada Tuhan? Kalau sudah begini, bisa apa aku. Di mana keangkuhan dan kesombonganku, bisakah aku melawan kehendak-Nya?
Setelah aku memesan kamar rumah sakit dan menandatangani pernyataan dan persetujuan jika suatu saat, kapan pun dokter berhak melakukan tindakan medis.....tubuhku terasa menyusut, lemas tak berdaya...ohhh betapa kecilnya aku dihadapan-Mu ya Allah.....
Repotnya....butuh perjuangan untuk membujuk Jasmine agar tidak berontak saat suster rumah sakit hendak memasukkan jarum infus. Saat aku dan Jasmine di rumah sakit, istri kembali ke rumah karena masih ada dua anak yang membutuhkan perhatian. Mengantar-jemput Bintang ke sekolah (TK-A) dan memberi ASI kepada si kecil Maira.

Sudah satu hari aku dan Jasmine di rumah sakit. Jasmine masih kelihatan pucat dan lemah matanya sayu tidak lagi aku lihat keceriaan dan kelucuan pada dirinya....

Ya Allah.....tempat muara segala urusan makhluknya...

Jasmine belum sembuh, baru sehari di rumah sakit Istri di rumah telpon mengabarkan Bintang muntah-muntah terus apa pun isi dalam perutnya dikeluarkan. Jangankan makan nasi, minum teh saja dimuntahkan. Waduh, apa lagi ini Tuhan......aku perintahkan istri segera membawa Bintang ke rumah sakit. Betapa repotnya istriku membawanya ke rumah sakit sementara Maira si kecil tidak bisa lepas dari gendongannya. Di rumah ada si mbak tukang bersih-bersih rumah, selain itu tugasnya mencuci pakaian dan seterika. Kami tidak bisa andalkan untuk pekerjaan lainnya.

Dengan bantuan tukang ojek sampailah istri dan Bintang di rumah sakit. Selesai melakukan pendaftaran kami dalam antrian, menunggu giliran Bintang ditangani oleh dokter anak yang ada saat itu. Aku tidak bisa menggambarkan dan menuangkan dalam tulisan ini tampang istriku juga Bintang anakku yang merintih melawan sakit di perutnya. Aku hanya mematung tak berdaya dan betapa malunya aku terhadap kemauan Tuhan....kurasakan Tuhan menertawakanku dan aku terpaku getir sampai-sampai aku tak kuasa menggerakkan kakiku. Duhhhhh Gusti Allah......aku tersentak saat istriku memanggilku dan memintaku agar membawa Bintang ke ruang dokter karena telah tiba gilirannya.
Setelah dokter memeriksanya, diagnosa awal Bintang terkena diare. Dengan segala pertimbangan dan saran dokter akhirnya diputuskan Bintang dirawat, satu ruangan dengan Jasmine. Seperti halnya ketika Jasmine diinfus aku dan istriku kembali dihadapkan situasi di mana semua orang tua takkan bercita-cita anaknya masuk rumah sakit apalagi musti diopname dan jarum infus melubangi nadi anaknya. Kami orang tuanya harus mengalahkan rasa iba....

Sehari setelah Bintang dirawat di rumah sakit belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Bintang terus mengeluh sakit perut bagian bawah dekat pusarnya hal ini kami sampaikan ke dokter. Setelah dokter menerima informasi dari kami dokter segera memeriksanya, perut Bintang ditekan agak dalam dan Bintang menyeringai kesakitan, “aduhhhh sakittttt”.
Kemudian dokter menghampiri kami dan berkata, “saya curiga, nampaknya Bintang kena usus buntu”, “kami akan melakukan rongent untuk memastikannya, sebelum kami melakukan rongent Bingtang harus puasa minimal 10 jam, mulai sekarang Bintang baiknya jangan diberi makanan atau pun susu agar esok hari jam 9 dapat kami lakukan rongent”. Kami orang tuanya pasrah sambil berharap ke-Agungan Tuhan bahwa usus buntu itu tidak ada/tidak terjadi sehingga Bintang tidak perlu dioperasi.

Ya Allah.......kepada siapa lagi kami mengadu....air mata kami tumpah ruah, sedih, kwatir, miris mengingat Bintang makin tak berdaya, mulut mungilnya memanggil lirih, mama....papa.....sakit perut...Aku kok tidak yakin, mungkin lebih tepatnya tidak PD untuk meminjam keajaiban tangan Tuhan untuk mengangkat derita anakku setelah apa yang telah aku perbuat dengan menafikan kuasa-Nya.

Malam makin larut namun mata ini sulit terpejam, berharap aku bisa segera tidur sehingga aku bisa melupakan bagian terkecil derita yang diberikan Tuhan. Nampaknya malam ini terasa panjang, jika saja malam adalah lembaran kertas ingin aku robek menjadi pagi. Aku sudah tidak sabar ingin Bintang segera dirongent dan hasilnya negatif (usus buntu itu tidak ada).

Adzan subuh sampai ke telingaku, mumpung Bintang dan Jasmine masih tidur aku tinggal dulu untuk sholat subuh yang kebetulan mushola rumah sakit dekat dengan kamar anak-anak dirawat. Selesai sholat subuh aku segera kembali ke kamar dan alhamdulillah mereka masih pulas tidurnya. Aku membaringkan tubuhku di sofa yang tersedia di dalam kamar itu dan tidak lama kemudian aku merasakan kantuk amat berat dan selanjutnya aku tidak ingat lagi, aku tertidur.
Sekitar dua jam aku tertidur, tepat jam 7 pagi aku terbangun karena terdengar ketukan pintu kamar yang ternyata suster rumah sakit ijin hendak masuk. Dan aku ijinkan dia masuk dan suster itu langsung memeriksa selang infus kemudian memeriksa suhu tubuh Bintang.

Sabtu pagi dokter telah mengijinkan Jasmine bisa dibawa pulang karena sudah dinyatakan sehat. Jasmine sembuh dan dia kembali lucu, riang dan bawel. Mamanya menjemputnya sementara aku dan Bintang masih tinggal di rumah sakit. Tentu saja Bintang berontak nangis ingin ikut pulang bersama mamanya. Tetapi itu tidak mungkin karena nanti jam 9 dokter akan melakukan rongent untuk memastikan apakah usus buntu yang diyakini dokter itu nyata ada.

Tepat jam 9 pagi Bintang dibawa ke ruang rongent oleh suster rumah sakit dan menghantarkannya. Bintang meronta nangis ketakutan, aku membujuknya walau kenyataannya bujukanku tidak berarti, tidak bisa menghentikan tangisnya. Dengan segala daya aku dan suster bekerjasama untuk melakukan foto rongent dan mengabaikan tangisan Bintang yang mengiba minta tolong. Akhirnya rongent bisa dilaksanakan. “sejam lagi sudah ada hasilnya dan dokter yang akan menjelaskan hasilnya kepada bapak”, petugas rongent berkata demikian kepadaku. Aku membawa kembali Bintang di kamarnya semula. Harap-harap cemas aku menunggu hasilnya sambil bertanya kepada diriku sendiri, apakah Tuhan bisa merubah kondisi pelik ini? Tidak ada yang tidak mungkin di sisi Tuhan jika Dia berkehendak. Begitulah sisi batinku berkata. Setidaknya begitulah apa yang pernah aku dengar dari beberapa orang bijak dan aku juga pernah membacanya dalam Al-Qur’an. Berbagai macam pikiran berseliweran di kepalaku. Aku dikepung oleh pikiranku sendiri hingga kurasakan sesak. Dan bunyi ketukan pintu mengurai kemelut pikiranku. Dokter datang, dan kali ini dokter bedah yang datang. Jika dokter bedah yang datang di kamar ini, aku tidak yakin dia membawa berita baik untuk Bintang juga aku. Usus buntu dan operasi adalah keniscayaan.

Ya Allah.......yang pengetahuan-Nya amat luas tak terbatas....

Positif, Bintang terkena usus buntu!

Nanti jam 23.00 jika memungkinkan dokter akan melakukan operasi “Apendix” Bintang dianjurkan untuk tidak makan, mulailah puasa dari jam 12 siang nanti.
Layaknya seperti jagal yang akan memotong hewan, tegas kata-katanya dan nyatanya dia adalah dokter yang bertugas di Mabes Angkatan Darat.
Tidak ada jalan lain, ketakberdayaan kami dan kepasrahan kami menghempas menghunjam dengan sekeras-kerasnya. Ohhhh Bintang anakku....nasibmu le le.....anak lanangku...
Jauuuuuuh sebelum ini, aku berharap jangan sampai ada anak-anakku dirawat, diopname dengan selang infus di rumah sakit, kok ini Bintang malah dioperasi...duh Gusti Allah.....

Seperti yang telah direncanakan semula oleh dokter bedah, Bintang jadi dioperasi, dilakukan pemotongan, diputus sambung ususnya.
Bintang pulas tertidur setelah dibius oleh dokter bedah dan dibawa masuk ke ruang operasi. Aku seperti orang mabuk, berjalan tanpa arah di sekitar ruang operasi. Maju, mundur, ke samping, kiri kanan, sementara mulutku merancu bak dukun membaca mantera, komat-kamit.....aku pasrahkan urusan ini kepada-Mu ya Allah.....tolonglah anakku.
Setengah jam kemudian dokter bedah keluar dari ruang operasi dan menghampiriku, “operasinya sudah selesai bapak bisa tengok anaknya, tetapi anak bapak anak masih belum sadar karena pengaruh bius”. “sukses ya dokter, operasinya?” aku bertanya kepada dokter dan dia menjawab, “Insya Allah dengan seulas senyum di bibirnya”, dan aku membalasnya dengan ucapan “alhamdulillah”.
Jam 24.12 Bintang dikeluarkan dari kamar operasi dan dikembalikan di kamar inap. Sekitar tiga puluh menit aku menunggu, namun, Bintang belum juga sadar dari pengaruh bius. Aku putuskan untuk tidur dekat dengannya agar jika dia bangun aku mengetahuinya. Jam 3 pagi Bintang nangis kencang....sakit papa sakit papa...perut Bintang sakiiiiiit....aku segera bangun dan memanggil suster jaga. Suster bilang, Bintang kesakitan karena pengaruh bius mulai berkurang...dan mulai saat itu hingga keesokan hari Bintang kesakitan, sering merintih nangis.....tepat seminggu Bintang dirawat di rumah sakit dan akhirnya berangsur sehat dan kini Bintang kembali sehat, kembali ditengah rumah dan keluarganya sendiri, kembali ke sekolah, kembali bertemu dan bermain dengan teman-temannya di sekolah.....
Terima kasih ya Allah engkau telah melatih kesabaranku....minimal inilah hikmah yang dapat aku petik....
BacaSelengkapnya...

Selasa, 11 Januari 2011

MAKA TEPATILAH JANJIMU!

Sering saya temui orang-orang di ibu kota ini ingkar janji, omdo (omong doang). Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Membuat janji tidak bisa dianggap remeh. Janji adalah sebuah komitmen, namun sayang sedikit sekali saya jumpai orang yang mengerti hal itu. Mereka yang selalu menepati janji adalah pribadi yang memiliki integritas, karena menjadi barang langka di kehidupan ini.

Janji menurut wikipedia adalah sebuah kontrak psikologis yang menandakan transaksi antara 2 orang di mana orang pertama mengatakan pada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang berharga baginya sekarang dan akan digunakan maupun tidak. Janji juga bisa berupa sumpah atau jaminan.Janji dapat diucapkan maupun ditulis sebagai sebuah kontrak. Melanggar janji tak hanya sering dianggap sebagai perbuatan tercela, malahan juga ilegal, seperti kontrak yang tidak dipegang teguh.
Gampang sekali orang Jakarta ber-janji namun mereka enggan menepati janjinya itu. Gengsinya tinggi, tidak mau bicara apa adanya.
“Sudah saya transfer ya, lewat Hongkong Bank”. “Mohon difax bukti transfernya ya, bu”. “Nanti sore ya saya fax, saya masih di jalan”. “OK, saya tunggu ya, bu”..Begitulah komunikasi 2 orang di telpon.
Sore sampai malam tiba fax yang ditunggu-tunggu tidak kunjung ada. Saat dikonfirmasi ke yang bersangkutan, dihubungi telpon tidak angkat, diSMS tidak dijawab. Janji tinggal janji dan akhirnya tidak pernah terjadi transaksi apapun. Pembayaran yang pernah ibu tadi janjikan melalui Hongkong Bank tidak pernah ada. Ibu itu bohong.

“kalau kita rajin sembahyang maka Tuhan akan sayang kepada kita sedangkan setan benci kepada kita. Kalau ingkar janji maka setan akan sayang kepada kita, sedangkan Tuhan akan benci kepada kita”. Begitu kata pak Modin suatu ketika.
“Ada enggak perbuatan yang dibenci Tuhan tapi juga dibenci setan?” Pak Modin berpikir sejenak. lalu dia menjawaban dengan mantap, “Ada, kalau kita berjanji akan mengawini anaknya setan, kemudian ingkar janji, maka baik Tuhan maupun setan akan benci kepada kita”.

Makanya sungguh baik pesan agama, “Dan penuhuilah janji, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban”. Tepati janji oleh karenanya jangan memberi janji y ang berlebihan atau sesuatu yang lebih dari yang mampu kita berikan. Kegagalan menepati janji akan memberikan pengalaman buruk pada orang lain, dan akan menjadi lebih buruk apabila kemudian memantul dari mulut ke telinga.

Dalam bisnis tidak ada hal yang lebih buruk dari ingkar janji. Orang bule mengakatakan, “under promise over delivery”. Dalam bahasa yang lain, lambat dalam berjanji, cepat dalam melaksanakannya.
BacaSelengkapnya...

Minggu, 26 Desember 2010

TIMNAS, LEMAH KARENA RACUN POLITIK

Sedihnya hatiku menyaksikan permainan Timnas melawan Malaysia, pertahanan timnas dibuat kocar-kacir oleh Malaysia hingga gawang timnas jebol 3-0.
Ini bukan soal laser yang mengganggu kiper Markus, tetapi harus diakui permainan Malaysia lebih unggul dibanding timas kita.
Apa memang benar Timnas hanya jago kandang?
Kemenangan demi kemenangan timnas sebelumnya mendatangkan euforia dari seluruh penjuru negeri ini, rasa nasionalisme tumbuh bak jamur di musim hujan. Dari anak-anak, remaja, sampai orang tua merasakan kemenangan itu. Gempita sepak bola di mana-mana.

Menjelang keberangkatan timnas ke stadion Bukit Jalil-Malaysia, doa dan harapan masyarakat Indonesia menyertainya. Antusisme masyarakat sangat besar. Namun, harapan masyarakat Indonesia tercerabut dengan kekalahan timnas di leg pertama timnas diganjar dengan 3 gol oleh Malaysia.

Sedih, geram, dan marah...dan sekarang kita hanya menunggu keajaiban itu datang kepada timnas pada leg kedua. Timnas / PSSI berhutang besar terhadap suporter Indonesia yang telah rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket, ada yang pingsan kelelahan bahkan nyawa-pun melayang karena selembar tiket yang tidak geratis itu.

Timnas tidak mampu memikul harapan yang begitu besar dari masyarakat Indonesia atau karena kemenangan-kemenangan sebelumnya telah ditunggangi oleh kepentingan politik?
Iya, politik telah meracuni timnas hingga lemah tak berdaya menahan gempuran permainan Malaysia. Seportivitas itu luntur karena racun politik.
BacaSelengkapnya...

Senin, 20 Desember 2010

MENUJU KEABADIAN

Di dalam ruang dan waktu itu, ada peristiwa kelahiran dan kematian. Ada kalanya kita berpikir, kehadiran kita di muka bumi ini tak ubahnya sebuah kerikil kecil yang terlempar di danau yang menciptakan riak kecil, lalu menghilang tanpa bekas.
Sosok kematian yang begitu angkuh tak terkalahkan dan tak kenal kompromi membuat kita selalu protes kepada pemilik dan perancang kelahiran dan kematian. Bagaimana kita mesti menyikapi semua ini? Ketika seorang kaya raya terserang penyakit ganas yang mampu mengambil hidupnya, kita menjadi tersadar betapa sesungguhnya rapuh dan lemahnya diri kita. Pantas agama mengajarkan untuk selalu bersikap rendah hati, karena baik ilmu, harta, maupun pangkat tidak ada yang abadi dan semuanya mudah sekali lepas dari diri kita.
Pada upacara pelepasan jenazah dari rumah duka kita sering mendengar ucapan,”… dalam kehidupan manusia ada dua peristiwa penting. Pertama pada saat ia dilahirkan. Pada saat itu sang bayi menangis sedang yang hadir berbahagia. Kedua pada saat ia dipanggil Tuhannya. Pada saat itu yang meninggal berbahagia, sementara yang hadir menangis (berduka cita).

Lahir pasti bukan kemauan sang bayi, kalau dia boleh memillih siapa orang tuanya, mungkin dia akan memilih jadi anaknya orang makmur. Makmur harta, makmur jabatan. Kalau bayinya tidak dapat pilih-pilih, calon orang tuanya pun juga tidak dapat minta agar anak yang akan dilahirkan berambut brindil kayak Giring atau Edy Brokoli, bermata Liz Tailor, berhidung Brad Pit dan berbibir Lola Amaria… like father like son… Buah apel tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kalau kulit orang tuanya tidak mengkilat, anaknya ya… sekitar itu-itulah.

Kita telah diingatkan lewat agama tuk berdoa, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah bagiku anak-anak yang shaleh, anak yang dapat menjadi buah hati dan pengobat duka hati orang tuanya”.
Setiap apa yang ada di bumi ini akan hancur demikian pula tubuh manusia akan terurai menjadi tanah. Mati itu rahasia Illahi. Orang yang kurang menyadari sering mempersoalkan, “Oooalah Mas Mas, kamu itu bagaimana. Dulu jadi Preman Pasar dipukuli Satpol PP berkali-kali tidak mati. Sekarang Cuma jatuh di kamar mandi saja kok mati.”
Dalam hidup kita sering menjumpai peristiwa-peristiwa yang bertentangan atau tidak sesuai dengan keinginan kita. Jika demikian halnya, kita harus segera menyadari bahwa itu adalah ketetapan-Nya, tidak seorangpun yang mengetahui. Oleh karena itu sikap sabar dan tawakal harus dikedepankan.
Sadar bahwa mati adalah suatu keniscayaan dan tak dapat diramalkan. Maka pak Modin suatu hari pernah “berfatwa” pada anak-anaknya. “Semua itu akan mati hanya istilahnya saja mungkin berbeda. Ada yang menyebutnya wafat, meninggal, bahkan modar, tidak masalah. Percuma saja kita lari dari ketetapan-Nya. Kemanapun atau sejauh apapun kita lari, sesungguhnya kita tengah menuju kematian.”
BacaSelengkapnya...

Rabu, 15 Desember 2010

MENGHARAP DAMAI PADA ASSALAAM…

Membayangkan adanya kehidupan lain setelah kematian, rasanya ngeri jika menelisik diri sendiri yang banyak maksiatnya jika dibanding dengan amalan shalehnya.

Dengan mencoba memejamkan kedua mata beberapa saat, hanya gelap pekat yang aku rasakan tidak aku temukan gambar yang indah aduhai seperti yang sering aku lihat di dunia nyata maupun di internet. Masih saat terpejam, tidak aku jumpai senyum manis istriku dan kelucuan tingkah anak-anakku. Sepi, dan benar-benar senyap.

Waktu terus menggeliding seirama dengan roda kehidupan. Umur bertambah banyak namun jatah hidup makin berkurang.
Pertanyaannya yang paling pas dengan kontek ini adalah sudah cukup-kah bekal untuk menghadapi kegelapan itu? Jujur saja malu untuk menjawabnya karena kenyataannya bekal yang aku punya jauuuuuuh dari cukup.

Sekedar mengingatkan diriku sendiri, “masih ada waktu lho” untuk membekali diri. Dasar aku, jiwa yang sudah telanjur diperbudak oleh keinginan dunia. Virus wahan membuat jiwaku payah untuk menjemput hidayah-Nya.


Ya Salam Ya Allah…..beri aku keselamatan. Ini adalah amalan yang didapat dari salah satu nama-nama Allah yang Mulia yang berarti Yang Pemberi Selamat.

Ucapan salam dalam tradisi spiritual, merupakan suatu jaminan kedamaian dari orang yang memberi salam kepada mereka yang ditemuinya. Ucapan assalamu’alaikum, dalam keyakinan spiritual keislaman, mengandung arti, “Saya jamin keselamatan dan kedamaian Anda. Saya tidak akan berbuat jahat atau berniat mencelakakan Anda.”

Ketika malaikat menyampaikan salam kepada Nabi, beliau, para Malaikat Tuhan tadi pun tak lupa menebarkan salam itu kepada umatnya yang shaleh. Dialog indah itu kemudian menjadi bacaan “wajib” dalam epilog akhir ibadah shalat.

Tak hanya cukup sampai di situ, ketika hendak usai menutup ibadah shalatnya, maka sekali lagi sebuah kewajiban bagi mereka tertunaikan dengan melafazkan salam teriring tengokan ke kanan ke kiri. Maknanya, pekerjaan utama orang yang memiliki kaidah berserah-diri adalah menyapa, menyebarkan salam, dan merealisasikan kedamaian sebagai sebuah pesan universal.

Sungguh indahnya perbuatan menyapa itu, begitu damai ucapan salam itu, sehingga tatkala para malaikat menjumpai kaum beriman yang berada dalam surga, ...hanya bagi orang-orang yang percaya ada kehidupan lain setelah mati... memberi penghormatan dengan melantunkan salam kemuliaan. Dan orang-orang beriman itu memasuki tempat mulia “Surga” dengan penuh kedamaian, buah kesabaran dari apa yang telah mereka usahakan selama hidup di dunia.
Duhai, betapa indahnya salam itu, sehingga perjumpaan Sang Pencipta dengan para abdi yang diciptakan-Nya, didahului dengan sapaan “Salaam”. Dalam kitab agama Samawi, the Bible pun disebutkan bahwa hari pertemuan antara The Creation (God) dan creationist (yang dicipta) adalah sebuah keadaan yang indah dan penuh kedamaian serta keselamatan. Begitupun halnya dengan banyak kepercayaan lainnya, bahwa hari pertemuan dengan Sang Creation itu selalu digambarkan dalam suasana kedamaian dan salaam (selamat).

As-Salaam adalah salah satu dari sekian Asma Allah yang lainnya. Sang pemilik dan penyebar kedamaian. Dia-lah yang mengajarkan manusia arti kedamaian dan keselamatan. Allah jua-lah yang mengutus manusia-manusia beriman untuk terus menerus menebarkan kedamaian di muka bumi. Dan lewat asma-Nya yang satu ini, Rasulullah saw telah menjadikan kedamaian sebagai bagian integral ajaran yang ditebarkannya, beliau bersabda: Assalaamu minal islam, menyebarkan kedamaian merupakan bagian terpenting Islam, yang juga memuat makna keselamatan.

Siapa tahu dengan amalan Ya Salaam Ya Allah bisa memberi benderang menuju perjalanan maha panjang. Amiiin
BacaSelengkapnya...

Minggu, 12 Desember 2010

TERCIPTANYA SAHABAT

Cita-cita mendapatkan kekasih yang ideal, tentu ada pada diri setiap orang. Namun, cita-cita atau keiginan mendapatkan teman yang cocok hingga menjadi sahabat, saya kurang yakin ada orang seperti itu.
Saya kira amat sedikit dari kita yang berkeinginan mempunyai sahabat, kenapa? Sahabat itu tercipta dari sifat-sifat baik kita dan tanpa kita sadari sahabat itu terjalin dengan sendirinya.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan. Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan dendam atau sakit hati.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan cinta dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egois.
Banyak orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun tidak sedikit yang putus karena dikhianati, saat sahabatnya tidak lagi mampu menopang kesulitannya.
Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ???
Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ??
Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa ??
Ketika kau jatuh, ia akan berusaha menopangkan tangannya supaya kau tidak tergeletak.
Ketika kau bersuka, ia akan berada disisimu dan turut merasakan kebahagiaanmu.
Ketika kau berduka, ia akan berada disampingmu, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara menghiburmu. Tetap mendengarkanmu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutmu, meskipun kau hanya mengaduh dan meskipun ia tidak tahu bagaimana solusi masalahmu.
Ketika kau mengatakan cita – citamu, ia akan mendukung dan berdoa untukmu.
Ketika ia bersuka, kau juga akan bersuka karenanya.
BacaSelengkapnya...

Selasa, 07 Desember 2010

MENYIBAK RENCANA TUHAN.

Saat kita dihadapkan oleh kenyataan bahwa kesialan, kekecewaan dan tidak beruntungnya kita dan kita jadi gregetan kenapa Tuhan tega-teganya memberi ujian seperti itu, ada yang tidak tahan lalu menghujat Tuhan. Itu adalah saat iman kita rapuh.

Ini adalah cerita sungguhan, seorang kawan dia adalah karyawan juga sebagai pengusaha namun saya tidak tahu persis bagaimana hatinya tercerahkan seakan telah melihat Tuhan mungkin itu yang dinamakan hidayah.
Sholat 5 waktu dilakukannya tepat waktu, nyaris sempurna seperti tiada hari tanpa ingat Tuhan dan ibadahnya khusu’ itulah gambaran orang yang telah “melihat Tuhan”.
Dan saking cintanya kepada Tuhan yang disembahnya semua urusan semata-mata demi mendapat ridho Allah SWT. Seluruh keluarga diarahkan untuk lebih dekat kepada Tuhan tanpa terkecuali supir dan pembantunya.

Entah aturan seperti yang telah diterapkan di keluarga itu, pernah suatu hari salah satu supirnya bercerita, “Mas, dulu saat aku memutuskan pindah kerja dari majikan yang lama ke majikan yang baru ini aku berpikir akan lebih baik. Ibadahku akan lebih baik karena aku pikir inilah keluarga Islami yang sesungguhnya, keluarga yang santun dan tentu saja bisa dijadikan panutan.” Begitulah sang supir memulai ceritanya dan dia melanjutkan ceritanya (mungkin lebih tepatnya curhat kali), “padahal aku tuh ingin beribadah pada Tuhanku dengan nyaman sesuai dengan kehendakku tanpa tekanan”, lho, maksudnya apa ini Mas, kok ibadah ditekan dipaksakan? Saya menyela disaat dia ingin melanjutkan ceritanya. Begini lho Mas, “masak kalau aku ndak sholat tepat waktu gajiku dipotong oleh majikan perempuan, seakan-akan dia itu mandor bangunan yang mendapat mandat dari Tuhan untuk mendikte dan mengawasi ibadahku?” “Aku ndak tahan Mas kerja di majikan ini, aku mau keluar saja, aku sering ndak bisa sholat tepat waktu itu kan bukan mauku tapi aku ini sibuk dengan pekerjaan yang lain, aku ini supir bukan ustad….” Begitulah dia berkeluh kesah.

Beberapa hari kemudian saya tidak pernah bertemu lagi dengan supir itu, barangkali dia benar-benar keluar dari pekerjaannya. Dan cerita supir pun berlalu dan saya sendiri telah melupakannya.

Lalu, apa hubungannya cerita supir dan majikannya dengan judul tulisan ini? Di bawah ini cerita lanjutannya:

Kawan yang jadi majikan sang supir tadi adalah salah satu hamba Tuhan yang taat ibadahnya melebihi kita-kita ini dan kini dia sedang diuji. Usahanya bermasalah dan hampir semua asset yang telah dia miliki disita orang. Hanya sampai di sini ceritanya, saya tidak tahu persis kenapa usahanya gagal dan sampai semua asetnya disita. Dari peristiwa ini saya berpikir, “kenapa Tuhan masih bisa tega menggoda hambanya yang begitu saleh, adakah yang salah dengan ibadahnya?” atau jangan-jangan sang supir tadi gregetan dan kemudian berdoa dan doa-nya dikabulkan oleh Tuhan? Tapi, apa mungkin doa seorang supir yang sering sholat tidak tepat waktu itu lebih ampuh daripada sang majikan, yang kita tahu dari cerita di atas bahwa sang majikan ibadahnya lebih dahsyad? Hayo, begitulah pikiranku berseliweran di kepalaku….

Meminjam kutipan dari M. Arief Budiman: “Ada hari-hari di mana tak semua harapanmu terpenuhi. Ada hari-hari di mana kebahagiaan seolah hanya ditakdirkan tuk orang lain. Ada hari-hari di mana keburukan sperti mengumpulkan dan menjadi palu godam yang menghantam nasibmu. Ada hari-hari di mana saat begitu dibutuhkan, teman-teman terdekat menjadi yang paling jauh. Ada hari-hari di mana kamu merasa telah melakukan segalanya sebaik-baiknya, mengikuti dengan hati-hati semua jalan Tuhan, tapi yang kamu terima adalah duka cita.
Secara manusiawi kita boleh dan wajar berteriak histeris, memaki-maki, dan memepertanyakan keadilan Tuhan ada di mana. Sebagian besar orang akan melakukan hal yang sama: tuk semua hal buruk yang terjadi maka jawaban yang paling masuk akal adalah menyalahkan apa saja, siapa saja.”

Tapi jika kamu memilih menerima dengan besar hati dan bersyukur atas semua “keburukan” yang terjadi: akan kamu temukan di akhir hari bahwa sebenarnya Tuhan hanya menggoda.
Tuhan tak sungguh-sungguh berniat melukaimu. Tuhan tak serius menenggelamkan nasibmu dalam duka cita. Toh, dari semua prasangka buruk kita kepada Tuhan: Dia masih bermurah hati memberi kita hari-hari tuk kita jalani.
BacaSelengkapnya...

Selasa, 23 November 2010

KESEMPURNAAN ANAK-ANAK

“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tiin: 4)
Sifat pantang menyerah, tidak takut resiko, dan tidak kenal kata gagal terlihat sangat mengagumkan pada anak kecil, kemudian dikacaukan oleh pesan-pesan ketidakmampuan yang dating dari lingkungannya.

Coba saja perhatikan, bagaimana proses dan perjuangan anak kecil untuk bisa berdiri dan berjalan. Berulangkali jatuh bangun, kaki lecet, dan kepala terbentur. Dia akan mengeksplorasi dunianya dengan penuh keberanian walaupun tubuhnya belum siap untuk itu. Karena di kepalanya belum memiliki konsep bahwa ia tidak mampu.
Anak- anak kecil hampir tidak pernah memiliki rasa takut dan tidak mundur semangatnya untuk mengulangi dan mengulangi lagi sampai suatu saat sang anak bisa berdiri, berjalan, dan berlari.
Suatu totalitas keikhlasan yang sempurna. Ia kerahkan segala yang ia bias sampai kemudian mulai masuk pesan-pesan ketidakmampuan dari lingkungan yang seringkali ia dapatkan kata-kata “jangan”, “tidak boleh”, atau “tidak bisa”. Anak-anak itu itu pun mulai meragukan potensi dirinya.

Mustinya, setelah kita tumbuh dewasa rasanya kehebatan masa kanak-kanak perlu kita jaga jangan sampai hilang. Bahwa untuk menjadi kuat, tahan banting dan mandiri perlu lulus dari serangkaian ujian dan kesulitan hidup. Seorang pendaki gunung yang sejati, misalnya, akan tertantang oleh terjalnya jalan pendakian. Seorang pembalap tidak bergairah kalau jalan yang dilaluinya terlalu mulus. Pemain bola yang professional, adrenalin dan semangat juangnya akan keluar hanya ketika bertemu musuh yang seimbang atau lebih kuat.
BacaSelengkapnya...

Rabu, 10 November 2010

THE NANNY DIARIES, SIAPA SIH LOE?

Siapa sih aku? Bisakah Anda jelaskan mengapa Anda melamar pekerjaan di perusahaan ini? Apakah perusahaan ini pantas memperkerjakan Anda?
J awaban atas pertanyaan di atas untuk sebagian orang tidak selalu bisa ditemukan dengan mudah, lebih-lebih pertanyaan itu tidak pernah terlintas di pikiran.
Annie Braddock yang baru saja menyelesaikan kuliah menjalani interview di sebuah perusahaan keuangan terkemuka di Amerika. Sang pewawancara membuka percakapan dengan mengatakan perusahaannya menerima delapan ribu surat lamaran, padahal hanya ada sepuluh lowongan kerja yang tersedia. Jadi, pasti hanya orang terbaik sajalah yang mendapatkan kesempatan itu. Perusahaan ingin mengetahui, siapakah orang terbaik itu? “Now, “katanya, “Can you explain who Annie Braddock really is?”
Jika Anda sudah pernah menonton film itu, Anda tentu masih ingat raut wajah Annie mendengar pertanyaan sederhana itu. Dia bilang, itu pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab. “I am Annie Braddock.” Kemudian, masih dengan rasa percaya diri yang tinggi. Namun, pada detik selanjutnya….”I am….ehm….” dia mulai tergagap. E..e….”
Sang pewawancara menatapnya sambil tersenyum. Dia tahu anak itu tidak akan bisa menjawabnya. “I…am, Execuse me…” Annie bangkit dari kursi, lalu pergi meninggalkan ruang interview. Dalam perjalanan pulang Annie masih tidak mengerti jawaban yang harus diberikan atas pertanyaan itu. Who Annie Braddock really is?
Annie Braddock adalah potret kita masa lalu. Ketika baru lulus sekolah, kurang lebih seperti itulah diri kita. Polos, lucu, dan lugu. Anehnya, meski itu sudah bertahun-tahun lamanya berlalu, ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa setelah dewasa pun kita masih membawa-bawa krisis itu. Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Seorang Annie Braddock akhirnya menjadi seorang nanny.
Kesimpulannya adalah, jika kita percaya bahwa manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, maka itu berarti bahwa setiap orang memiliki “sesuatu” yang tidak diketahui atau tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Kita sepakat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Itu berarti kita mengakui kalau orang lain memiliki kelebihan dari kita. Jadi, kita tidak akan panas hati ketika ada orang mengklaim diri lebih baik dari kita. Itu juga berarti secara sadar mengetahui bahwa kita memiliki kelebihan dari orang lain.
Rupanya tidak terlalu rumit untuk menjadikan hidup kita bermakna. Kita tidak perlu mengganti identitas diri kita dengan identitas orang lain karena cepat atau lambat orang akan tahu bahwa semuanya itu bukan diri kita yang sesungguhnya. Siapa sih aku? Sapa sih loe?
BacaSelengkapnya...

Kamis, 28 Oktober 2010

GUNUNG, JUGA MAKHLUK TUHAN


Jika gunung adalah sebuah batu besar, kenapa ia bisa batuk, pilek, meriang, dan mual? Apa iya, gunung mengalami siklus seperti makhluk hidup lainnya, seperti manusia? Rasa mualnya itu sampai dia muntahkan lahar, awan panas, debu vulkanik, dan bebatuan dari isi perutnya.
Aku kok, yakin kalau gunung itu juga makhluk bernyawa karena ia punya aktivitas. Konon, menurut ahli, gunung merapi adalah salah satu gunung paling aktif didunia, tercatat 68 kali letusan dlm kurun 450 tahun. Kemungkinan letusannya adalah satu berbanding 6.6. Waktu jedanya berkisar 3~8 tahun saja. Setiap tahunnya Merapi mengumpulkan rata2 1.2 juta m3 lava dipuncaknya, yang setiap saat bisa runtuh saat hujan lebat atau saat kerongkongannya tersumbat. Letusan paling berbahaya terakhir terjadi di tahun 1930 yang memakan 1,300 korban jiwa, sejak itu siklus 3 tahunan atau lebih selalu hadir, membuat pontang panting siapa yang tinggal di lereng.
Gunung Merapi lahir dari dua patahan quartenary pada kedalaman 6-7 km di bawah bumi. Patahan ini membentuk sebuah parit raksasa di dalam perut bumi yang molten lavanya bocor terus menerus dan bertumpuk membeku di kepundan. Tinggi gunung Merapi selalu berubah setiap tahunnya karena pembentukan tumpukan lava beku.
Jadi, gunung meletus dan segala hal yang berhubungan erat dengan letusannya itu: awan panas, debu vulkanik, lahar, kerikil dan bebatuan beterbangan menimpa semua hal yang ada di sekitarnya itu bentuk deritanya gunung atau kemarahannya?
Namanya juga makhluk hidup, tidak selalu sehat. Ada saatnya mengalami sakit (batuk, mual, bersin-bersin…). Gunung juga bisa marah seperti halnya makhluk lainnya. Kita perlu menyikapinya dengan bijak. Sejatinya gunung itu makhluk penyendiri mungkin lebih tepatnya makhluk pertapa. Oleh karena itu, dalam meditasinya gunung tidak mau terganggu.
Mencoba memahi sifat gunung, selayaknya kita menjaga hutan sang teman sejatinya gunung. Kita tidak diperbolehkan menggunduli hutan, menambang pasir dan batu secara serampangan. Kenyataannya, orang kita lupa bahwa gunung itu mahkluk yang bisa marah dan sakit. Kita lupa bahwa kita telah menyakiti teman sejatinya gunung.
Ekonomi, iya, gunung bisa sakit dan marah karena berawal dari soal kebutuhan ekonomi.
Akhirnya, gunung merapi bisa kita pahami adalah sebuah makhluk yang cantik, perkasa dan menggetarkan. Kekaguman terhadap Merapi tak berubah, karena seperti halnya sebuah keburukan selalu diimbangi sisi kebaikan. Itulah kearifan alam - dan Merapi adalah salah satunya.
BacaSelengkapnya...

Rabu, 27 Oktober 2010

HIDUP DIPAKU CINTA

Pengalaman yang tidak pernah berubah rasa, model, dan bentunknya dari zaman purba hingga sekarang adalah pengalaman jatuh cinta. Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat menyenangkan. Begitulah sebagian rasa-rasa yang dapat diwakili dari seluruh nuansa jatuh cinta.
Memegang tangan pasangan saja membuat jantung berdebar. Melihat matanya yang dibalut senyum bisa menyita seluruh waktu. Pikiran penuh dengan kenangan itu membentuk satu rangkaian kalimat yang terdengar di telinga setiap hari. Memperhatikan rambut, mata, hidung, bibir, dan cara bicara lawan jenis kita, semuanya tampak pas dan sempurna. Dan pada akhirnya hidup kita seperti dipaku pada satu tempat yang bernama jatuh cinta.

Alkisah, terdapat seorang pemuda yang datang hendak berguru kepada seorang guru tarekat, mau belajar bagaimana mengenal, mendekat, dan mencintai Tuhan sehingga mengalahkan cintanya pada dunia. Tentu saja sang guru menyambut gembira kedatangannya. Setelah mendengarkan maksud kedatangannya, sang guru bertanya: “Pernahkah Anda merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan?” Pemuda menjawab, “Belum.” Sang guru pun menganjurkan agar ia pulang dulu ke kampungnya dan mempersilakan datang lagi setelah pernah mengalami jatuh cinta kepada lawan jenis.

Kisah sufi ini menjelaskan, berbagai pesan Al-QurĂ¡n untuk mencintai Tuhan, akan sulit dimengerti kecuali oleh mereka yang pernah merasakan jatuh cinta. Tentu saja cinta pada Tuhan dan cinta pada lawan jenis berbeda. Namun dengan bekal pengalaman bagaimana rasanya mabuk rindu terhadap orang yang dicintai akan sangat membantu memahami ajaran tasawuf tentang cinta. Rasa cinta dan rindu merupakan dua perasaan yang saling terkait, dan tak mungkin dipisahkan. Siapapun yang belum pernah mengalami jatuh cinta dan belum pernah merasakan derita dirundung rindu akan sulit baginya untuk memahami, merasakan, dan mengungkapkan kata “cinta” dan “rindu” ketika nantinya guru sufi berulang kali mengucapkan dua kata itu.
BacaSelengkapnya...